HAVE YOU EVER BEEN HOMOSEXUAL? [Sebuah Renungan tentang Empati]
PERNAHKAH KITA MENJADI MEREKA sehingga kita mempersalahkan mereka dengan apa yang mereka pilih?
Psikologi Indonesia Goes Blogging: HAVE YOU EVER BEEN HOMOSEXUAL? [Sebuah Renungan tentang Empati].
Dari cara anda mengatakannya, kok saya merasa yang anda renungkan lebih ke arah “simpati” daripada “empati” ya?
*mencoba bersimpati pada orang-orang yang anda singgung*
Tidak bisakah saya berkeyakinan bahwa homoseksual (in activity or in person) itu dosa sambil tetap mampu memahami betapa sulitnya mereka didiskriminasi dan dilecehkan?
LOH??? Kok tidak menyertakan ayat lain dimana ANDA sendirilah yang dituding pada ayat tersebut?! Ayat kitab suci itu BERIBU, klo Anda memberikan SATU yang mengatakan homosekual dosa, mungkin Anda memiliki BERATUS ayat yang menuding pada diri Anda itu berdosa, mengapa memulai menunjuk orang lain? Tunjuklah diri sendiri!
Jadi…setelah saya menunjuk diri sendiri, saya boleh menunjuk mereka? Saya sudah bisa bilang bahwa “yes, I’ve committed these sins. And I see you have committed this homosexual sin, too. Let’s help each other repent in forgiveness of our Lord”?
Let’s talk religion. Ada pepatah mengatakan, ‘siapa yang tidak berdosa, boleh melemparkan batu PERTAMA kepada wanita yang melakukan perzinahan (pelacur)’. Sekarang aku katakan, ‘siapa yang merasa tidak bercacat cela, dan merasa lebih saleh hidupnya dibandingkan homoseksual, boleh berdiri dan mulai memberikan argumennya tentang DOSA kaum homo’.
Ha, tampaknya tidak bisa. Tapi bagaimana kalau saya tidak percaya Yesus dan Alkitabnya? Dan kenapa anda mulai memberikan argumen anda tentang ‘dosa’ kaum pengutuk homo ketika anda sendiri belum tentu lebih baik dari mereka? Selama ini saya selalu merasa tafsir ayat itu sering digeneralisasi berlebihan; seolah-olah tidak ada orang selain Tuhan sendiri yang boleh mengkritik perilaku sesamanya in any way.
aku selalu berpikir BEGO banget orang yang merokok, TOLOL banget orang yang lari dari masalah dengan alkohol, MALAS banget para pengamen, DOSA banget orang yang melakukan SEKS sebelum nikah (jangankan seks, pegang2 juga udah dosa tuh!), JAHAT banget psikopat yang membunuh demi kesenangan, TEGA banget orang yang selingkuh, KOK pelaku agama tapi bla,bla,bla…
Intinya memang soal sikap, tapi anda mencampuradukkan masalah moral, ekonomi, dan hukum dalam contoh-contoh itu. Saya rasa keabsolutan nilai judgemental kita pada pelaku seks pranikah, pengamen, atau pembunuh itu tidak sama.
Ketika aku mencoba EMPATI. Menjadi mereka: merokok, alkohol. Aku mulai mengubah nilai yang sebelumnya aku pegang, dan memudarkan benci terhadap kebodohan yang dulunya tak pernah bisa kumengerti.
Saya rasa, empati itu seperti ini: Apakah saya sudah mengerti dasar pemikiran mereka? YA. Apakah saya masih diperbolehkan untuk mempertahankan nilai-nilai yang saya anut yang tidak sejalan dengan pemikiran semacam itu? YA. Sekali lagi, yang anda tuturkan lebih terdengar seperti ’simpati’.
Lalu masalah contoh kasus selingkuh anda dan ini,
PERNAHKAH KITA MENJADI MEREKA sehingga kita mempersalahkan mereka dengan apa yang mereka pilih?
Andaikan saja ada seorang gay yang bertobat dan menganut agama tertentu; Apakah dia lalu lebih dapat menjustifikasi tindakannya ketika ia memberi cap ‘pendosa’ pad teman-temannya sesama gay karena “dia pernah menjadi mereka”?
*udah ah, capek bersimpati terus*
Nb. Kalo kita-kita mah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sangat menerima perbedaan. Karena kita belajar tentang manusia, lebih mau mencoba mengerti tentang manusia dan tingkah lakunya.
Ah, anda terlalu optimis ^^;
About this entry
You’re currently reading “HAVE YOU EVER BEEN HOMOSEXUAL? [Sebuah Renungan tentang Empati],” an entry on Catshade’s Catharsis Corner
- Published:
- Jumat, 29 Agustus 2008 / 10:05 pm
- Category:
- Komentar
- Tags:
- bias, diskriminasi, empati, gay, homoseks, prasangka, simpati, stereotipe
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]