Senioritas dan Etika Berkomentar
berkomentar dengan baik? apakah semua orang harus melakukannya? definisi komentar yang baik aja masih gak jelas. umumnya sih orang akan menganggap sebuah komentar itu baik kalo bikin hatinya seneng. buruk kalo bikin sakit hati.
Memang tidak harus, tapi sebaiknya kalau anda tidak mau dianggap mayoritas orang lain ‘kurang ajar’…saya rasa itu pokok utama dari sebuah netiket (atau etiket apapun), bukan?
Definisi komentar yang baik? Mungkin memang belum ada satu kesepakatan final, tapi saya rasa juga sudah jauh dari ‘masih gak jelas’. Dari pengalaman pribadi dan observasi saya di WP.com ini, umumnya sih blogger akan menganggap komentar itu baik kalau berbahasa sopan, sesuai topik, dan tidak bias/fallacious.
Ya, saya setuju berkomentar seperti itu memang butuh kebiasaan dan keterbukaan.
ketika sebuah tulisan sudah dipublish, maka penulis harus siap mendapat komentar apapun. termasuk jika ada dampak negatif dari tulisannya.
Saya setuju. Penulis harus siap mendapat komentar apapun, termasuk jika itu komentar buruk. Tapi ada 2 hal yang harus dicatat pula:
1. Penulis juga berhak memoderasi dan menghapus setiap komentar yang tidak ingin ia tampilkan di blognya. Tanda ketidaksiapan, atau justru tanda kedewasaan? Itu bisa dilihat dari komentar seperti apa saja yang ia loloskan dan seperti apa yang ia tolak.
2. Menerima komentar buruk sebagai keniscayaan yang tak terelakkan bukan berarti komentar buruk itu ‘tidak apa-apa’ atau setara bobotnya dengan komentar baik (per definisi saya di atas). Atau seperti kata Douglas Adams:
All opinions are not equal. Some are a very great deal more robust, sophisticated and well supported in logic and argument than others.
About this entry
You’re currently reading “Senioritas dan Etika Berkomentar,” an entry on Catshade’s Catharsis Corner
- Published:
- Minggu, 21 September 2008 / 2:19 am
- Category:
- Komentar
- Tags:
- blog, douglas adams, etika, internet, Komentar, senioritas
2 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]