Plagiarisme, Sinetron, dan Film Indonesia

Saya lebih ingin menanyakan kepada para pendemo itu, yang berkoar-koar anti-sinetron, “Tujuan kalian apa sih?”

via Plagiarisme « tehsore|Malaikat Realitas.

Kalau sinetron Indonesia memang plagiarisme yang notabene tanpa izin, saya kok belum pernah dengar ada produsen Dorama, K-Drama, Bollywood, atau bahkan Hollywood yang menuntut produsen sinetron Indonesia ya? Padahal katanya plagiarisme semua.

Karena sinetron tidak cukup ‘notable enough’ oleh para produser internasional itu? Kalau karya Indonesia yang mengandung plagiasi cukup terangkat namanya, pasti bakal dituntut juga kok (lihat kasus OST film Ekskul tahun 2007 kemarin yang ternyata ketahuan menjiplak setelah menang FFI, lalu dituntut Universal Music).

Lho, kalau yang diplagiat saja tidak mengatakan itu plagiarisme kenapa kok yang dijadikan target konsumennya malah yang ribut?

Karena itu tetap memalukan, melanggar undang-undang, dan tidak etis. Ibarat perilaku mencontek di sekolah; siswa pintar yang diintip jawabannya oleh para siswa2 goblok nan malas mungkin tidak keberatan buah pikirannya dicontek, tetap saja ‘pembiaran’ itu tidak lantas membuat aktivitas mencontek jadi sesuatu yang halal dan legal.

aya sih berpikirnya bentuk “plagiarisme” itu adalah usaha untuk meng-Indonesia-kan cerita yang tidak ada unsur Indonesianya. Kalau memang niatannya begitu berarti saya rasa mereka itu justru lebih nasionalis ketimbang para tukang protes yang lebih doyan nonton buatan luar negeri.

Unsur ‘mengindonesiakan cerita’ itu maksudnya yang seperti apa? Kalau cuma sekedar punya aktor-aktor Indonesia yang berdialog dengan bahasa Indonesia dengan setting di dalam Indonesia, terlalu dangkal untuk langsung menyebut mereka sebagai ‘nasionalis’.

Still, that begs the question: Kenapa tidak sekalian saja dari awal membuat cerita yang mengandung unsur Indonesia, kemudian sedikit-sedikit memasukkan unsur budaya positif yang berasal dari luar? Jawabannya bisa jadi karena mereka malas secara kreatif dan terlalu berorientasi pada profit.

Perlu diingat juga…realitas masyarakat metropolitan memang sudah begitu. Asal-usulnya mugnkin ya dari serial asing juga. Si produsen melihat realita seperti itu, ya dibuatlah sinetron yang menceritakan realita masyarakat metropolitan SEPERTI YANG TERLIHAT.

Mungkin ada SEBAGIAN masyarakat urban yang realitasnya seperti sinetron/film yang ada sekarang. Tetap saja, itu tidak menjadi alasan bagi produser untuk membuat MAYORITAS (untuk tidak mengatakan SEMUA) film/sinetron produksinya punya tema serupa. Kenapa realitas masyarakat urban yang lain (atau yang di pedesaan) tidak diangkat juga? Lagi-lagi kemungkinannya malas secara kreatif dan terlalu berorientasi profit.

Kepada para pemrotes sendiri salahnya kenapa kalian marah? Kalau kalian pintar seharusnya bukan marah tetapi harusnya tunjukkan mana yang benar, saya tidak pintar makanya saya tidak protes. Lalu kalau kalian pikir serial-serial Amerika itu lebih baik dari sinetron kita, mungkin memang sudah teracuni oleh serial itu sehingga Anda merasa Indonesia adalah Amerika bukan Indonesia adalah Indonesia.
[...]
Soal kualitas, ngomong-ngomong standar apa yang digunakan ya?
[...]
Masih mau protes dan berkoar-koar tanpa memberi solusi? Sepertinya kebiasaan masyarakat Indonesia itu…berusaha jadi kontra, tidak mendalami masalah, dan tidak memberi solusi. Mungkin lho…

Rasanya jarang sekali ada pihak anti-sinetron yang mendaulat Amerika sebagai panutan yang harus ditiru Indonesia. Saya kira justru malahan lebih banyak pihak yang menunjuk solusi buatan dalam negeri sendiri. Lihat sinetron/film bikinan Deddy Mizwar, bikinan Miles Production dan Kalyanashira; lalu ada Si Doel, Keluarga Cemara, dan (ini agak underrated) Satu Kakak Tujuh Ponakan. Saya kira semua produksi mereka sudah lebih dari cukup sebagai barometer karya sinetron/film Indonesia yang berkualitas.

About these ads

About this entry